Selasa, 05 Juli 2011

Bahan Ajar Menyusun Naskah Pidato





                                                                     BAHAN AJAR

Kompetensi Dasar
MENYUSUN NASKAH PIDATO



Pelajaran Bahasa Indonesia
Aspek Pembelajaran : Menulis
Jenjang : SMA/ MA





Disusun oleh :
Desi Kusmawati
2108090062



FAKULTAS KEGURUANDAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2011


STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR
SEKOLAH MENENGAH ATAS
                                                                Kelas X ( Sepuluh )          
Semester 2

Aspek Pembelajaran : Menulis

Standar Kompetensi
Kompetensi dasar
Indikator
Sumber/ Bahan Ajar
Mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato
Menyusun teks pidato
§  Mengidentifikasi unsur-unsur dalam teks pidato
§  Menentukan topik atau gagasan yang akan dikembangkan dalam teks pidato
§  Menyusun teks pidato  berdasarkan kerangka dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami.
§  Memperbaiki teks pidato dari segi struktur, diksi, kejelasan kalimat, dan penggunaan EYD
Modul 1 Bahasa Indonesia SMK setara tingkat unggul



MENYUSUN NASKAH PIDATO

1.       Pengertian

A.      Pengertian pidato

1.          Pidato adalah salah satu bentuk kegiatan berbicara dalam mencetuskan gagasan/ pikiran tertentu untuk membujuk, menginformasikan atau menghibur di depan orang banyak. Dalam pelaksanaannya pembicara (orator/ komunikator) dalam penyampaian ide, pikiran atau pendapat lainnya disampaikan secara lisan di depan umum. (Modul 1 Bahasa Indonesia SMK Tingkat Unggul)
2.          Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.
3.          Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi guna menyatakan pendapatnya atau guna memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh 1 orang lalu memberikan orasi-orasi dan pernyataan tentang suatu hal/peristiwa yang penting dan patut dibincangkan. Pidato adalah salah satu teori dari pelajaran bahasa Indonesia. (Sumber : Wikipedia)
4.          Pidato adalah 1)pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak; 2) wacana yang yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. (KBBI, 2001)

B.      Tujuan pidato

Berdasarkan definisi pidato, maka tujuan pidato dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.     Memberi suatu pemahaman/memberitahu/menginformasikan sesuatu hal pada orang lain.
2.     Membujuk, mempengaruhi sehingga komunikasi pendengar berbuat sesuai dengan harapan komunikator dengan suka rela.
3.     Menghibur atau menyenangkan komunikan dalam tema dan acara tertentu, sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan

C.      Bagian-bagian yang terdapat dalam naskah pidato
Kerangka/bagian-bagian umum dalam naskah pidato adalah sebagai berikut :
1.     Pembukaan biasanya terdiri dari salam, ucapan, syukur, ucapan terima kasih, tujuan
2.     Isi biasanya terdiri dari gagasan-gagasan yang hendak dicapai 
3.     Penutup terdiri dari simpulan, ajakan, harapan, permintaan maaf, salam penutup. 

D.      Jenis-jenis / macam-macam / sifat-sifat pidato

Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :

1.     Pidato pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc.
2.     Pidato pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
3.     Pidato sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
4.     Pidato peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.
5.     Pidato laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
6.     Pidato pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.

E.      Metode pidato
Metode (cara) pidato dapat dilakukan dalam bentuk :
1.     Metode membaca naskah
      Adalah cara penyampaian materi yang akan disampaikan ditulis dulu untuk dibacakan pada saat pidato
2.     Metode menghapal
      Merupakan lanjutan dari metode membaca naskah. Naskah yang sudah ditulis dihapalkan. Dalam pidato dengan metode ini komunikator hanya menyuarakan apa yang sudah dihapalnya.
3.     Metode improvisasi
      Adalah melakukan sesuatu (pidato) tanpa persiapan lebih dahulu. Metode ini komunikator tidak menyiapkan naskah. Bahkan menulis isi pokok-pokok pun tidak. Pidato semacam ini biasanya dilakukan oleh orang yang ditunjuk secara mendadak dalam suatu acara tertentu.
4.     Metode eksperimen atau pengembangan kerangka
      Metode ini merupakan cara paling efektif di antara ketiga metode tersebut (bagian a, b, dan c). Calon komunikator menyiapkan kerangka materi secara garis-garis besarnya saja, kemudian dikembangkan pada saat berpidato, namun sebelumnya sudah menguasai kerangka yang akan diuraikan.
Anda dapat menggunakan salah satu metode, dengan catatan, metode yang dipilih perlu dipertimbangkan atau disesuaikan dengan situasi serta pendengarnya. Analisis terhadap pendengar perlu mendapat porsi yang sama dengan persiapan diri seorang orator.

F.       Langkah Persiapan Pidato

a)       Langkah-langkah Pidato
Langkah persiapan untuk dapat berpidato dengan baik
Kemahiran berpidato diperoleh tidak dengan serta-merta, tetapi harus melalui latihan yang teratur dan berkelanjutan. Agar Anda dapat berpidato dengan baik, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.

1.     Menyelidiki pendengar dengan mengajukan pertanyaan, misalnya: siapa pendengarnya, jenis kelamin, pendidikan dan lain-lain.
2.     Memilih topik atau tema hendaknya disesuaikan dengan kemampuan diri, mempunyai arti atau kegunaan bagi pendengar dan lain-lain.
3.     Mengumpulkan bahan berdasarkan pengalaman, hasil penelitian, imajinasi, buku bacaan, media massa maupun media elektronik.
4.     Membuat kerangka pidato, caranya sama dengan membuat kerangka karangan lainnya, yakni: pembuka, isi, dan penutup.
5.     Mengembangkan pidato menjadi kerangka pidato.
6.     Latihan oral dengan vokal yang tepat, dengan suara yang nyaring.

Apabila hal-hal tersebut di atas benar-benar dipersiapkan, pasti tampil lebih percaya diri dan mantap dalam berpidato, khususnya bila kita berpidato secara resmi di depan publik.

b)       Mengatasi rasa gugup untuk kegiatan pidato
Cara mengatasi rasa gugup untuk melaksanakan kegiatan pidato di antaranya :
1.          Tetapkan dalam pikiran Anda, kata-kata apakah yang akan dipaparkan.
2.          Inti dalam pidato harus memiliki pembukaan, isi pidato dan penutup.
3.          Mengamati situasi dan kondisi.
4.          Siapkanlah terlebih dahulu pakaian yang akan dikenakan nanti.
5.          Pelatihan pernafasan.
6.          Percaya diri.
7.          Sebelum memulai bicara diamlah sejenak dan pandanglah para pendengar, dan tersenyumlah pada mereka (audien).
8.          Raihlah perhatian para pendengar pada saat Anda berada di podium.
9.          Bicaralah dengan suara yang sekiranya dapat terdengar oleh semua yang hadir.
10.      Taatilah waktu yang diberikan kepada Anda.

2.    Contoh Naskah Pidato
Teks pidato alumni (kelas 3 yang lulus)
Bismillahirrohmanirrohim.
Assalamualaikum. Wr. Wb.

Bapak Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Ciamis yang kami hormati.
Bapak/ Ibu guru yang kami hormati.
Bapak/ Ibu karyawan yang kami hormati.
Bapak/ Ibu tamu undangan yang kami hormati.
Adik-adik yang kami cintai.

Alhamdulillah Hirabbil Alamin.
Puja dan puji marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena pada hari ini kita bisa berkumpul dalam dalam keadaan sehat walfiat.

Pada hari ini kami merasa berbesar hati, izinkanlah untuk menyampaikan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan kepada kita.
  
Bapak-bapak, ibu-ibu beserta Adik-adik yang kami hormati, izinkanlah pula kami dalam kesempatan ini untuk mengungkapkan rasa terima kasih kami kepada Bapak/ Ibu atas bimbingan selama kami menimba ilmu pada sekolah ini. Kami menyadari selama ada dalam bimbingan Bapak/ Ibu, budi bahasa kami banyak tidak berkenan pada diri Bapak dan Ibu.

Nasihat yang bapak/ Ibu berikan dari lubuk hati yang putih, kami menerimanya kadang-kadang salah terima, oleh karena itu maafkanlah kami.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Adik-adik yang kami banggakan.
Kami menyadari dalam kehidupan ada waktu datang ada pula saatnya pergi. Ada rotan ada duri. Hal ini kita alami. Kita sebentar lagi berpisah. Kami akan meninggalkan sekolah tercinta ini untuk pergi membangun negeri dengan berbekal ilmu yang Bapak/ Ibu berikan.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Adik-adik yang kami cintai.
Kami berprinsip bahwa perpisahan ini hanyalah lahiriah, tetapi batiniah kita tetap bersatu, jauh di mata dekat di hati.
Tiga tahun kami dididik, dibina dan diberi berbagai ilmu pengetahuan, sekarang kami sudah selesai dalam binaan Bapak/ Ibu. Api padam puntung hanyut, tapi kami menyadari bahwa tamatnya kami masih jauh panggang dari api, tidak sesuai dengan harapan Bapak dan Ibu. Namun, demikian Insya Allah seluruh ilmu yang Bapak/ Ibu berikan, akan dijadikan obor kehidupan oleh kami, dengan prinsip apa gunanya kemenyan sebesar tungku kalau tidak dibakar. Oleh karena itu kami akan mengamalkan ilmu dari Bapak dan Ibu. Kebaikan Bapak dan Ibu guru akan selalu mengisi batin kami dan menjadi penerang hati.

Khusus kepada Adik-adik yang kakak cintai dan kakak banggakan, Anda masih anak muda, belajarlah dengan giat jalan terbuka masih panjang, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tingkatkan daya juang dan semangat belajar serta jaga nama baik sekolah.

Demikianlah beberapa patah kata yang dapat saya sampaikan dalam pidato perpisahan ini, semoga Allloh SWT memberikan kesempatan kepada kita, agar dimasa yang akan datang kita bisa berjumpa lagi. Amin.
Selamat tinggal semuanya… selamat berpisah

Wassalamualaikum Wr. Wb.
                                                                                (sumber : Modul SMK 1 tingkat unggul)

3.    Uraian Naskah Pidato pada Contoh di Atas

A.      Aspek struktur/ bagian-bagian naskah pidato pada contoh
Berdasarkan contoh naskah pidato di atas kita akan mengetahui bagian-bagian naskah pidato, yaitu :
1.     Pembuka
Berdasarkan contoh diatas kita dapat mengidentifikasi bahwa pembuka pada naskah tersebut terdiri dari :
a.     Salam pembuka, adalah salam untuk membuka pidato yang diucapkan oleh orang yang pidato kepada audiens, contohnya diatas adalah “Assalamualaikum Wr. Wb.“
b.     Salam sapa, adalah salam untuk menyapa audiens. Dalam ucapan sapa ini ada ketentuan dimana yang terlebih dahulu disapa adalah orang yang paling tinggi jabatannya yang hadir pada acara tersebut kemudian berurutan ke jabatan yang paling bawah, contoh diatas adalah :
“Bapak Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Ciamis yang kami hormati.”
“Bapak/ Ibu guru yang kami hormati.”
“Bapak/ Ibu karyawan yang kami hormati.”
“Bapak/ Ibu tamu undangan yang kami hormati.”
“Adik-adik yang kami cintai.”
c.     Ucap syukur, adalah ucapan yang berisi rasa syukur terhadap Tuhan atas terselenggaranya acara tersebut, contoh diatas menyatakan seperti berikut :
“Alhamdulillah Hirabbil Alamin.
Puja dan puji marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena pada hari ini kita bisa berkumpul dalam dalam keadaan sehat walfiat.”
“Pada hari ini kami merasa berbesar hati, izinkanlah untuk menyampaikan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan kepada kita”


2.     Isi
      Isi pidato adalah inti dari mater pidato yang disampaikan oleh orang yang berpidato atau narasumber. Contoh isi pidato di atas adalah
“Tiga tahun kami di didik, ................................. selalu mengisi batin kami dan menjadi penerang hati”.
Serta dapat melihat isi pidato tersebut pada paragraph ke-4.

3.     Penutup
Berdasarkan contoh diatas kita dapat mengidentifikasi bahwa penutup pada contoh naskah pidato tersebut adalah salam untuk menutup pidato, yaitu terdapat pada kalimat  “ Demikianlah beberapa patah kata yang dapat saya sampaikan dalam pidato perpisahan ini, semoga Allloh SWT memberikan kesempatan kepada kita, agar dimasa yang akan datang kita bisa berjumpa lagi. Amin.
Selamat tinggal semuanya… selamat berpisah
Wassalamualaikum Wr. Wb.”
         
B.      Karakteristik naskah pidato pada contoh
Karakteristik naskah pidato pada contoh diatas adalah sebagai berikut :
1.    Baik penyajian atau penulisan naskah pidato di atas dapat dimengerti dan dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang,
2.    Dalam naskah pidato tersebut tidak ada curahan jiwa atau unsur-unsur emosional,
3.    Penggunaan bahasa dalam naskah pidato tersebut lugas serta ditandai dengan pemakaian kalimat yang efektif.

C.      Analisis aspek semiotika (tanda dan lambang) naskah pidato

Yang membedakan antara aspek semiotika dengan karya lain, kita ambil contoh dengan karya ilmiah adalah terletak pada tanda baca dan lambang.
Lambang dan tanda baca yang terdapat pada naskah pidato diatas sesuai dengan EYD.

4.       Cara Menyusun Naskah Pidato
Dalam menyusun naskah pidato, kita dapat menggunakan berbagai teknik penulisan naskah pidato, yang diantaranya sebagai berikut :

1.     Menyusun teks pidato berdasarkan kerangka dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami
Sebelum berpidato, khususnya resmi, perlu menyusun teks pidato. Teks pidato perlu disusun agar uraian lisan/berpidato nantinya tidak menyimpang dari topik dan tujuan, agar tepat waktu,ada koherensi,serta tersampaikan  secara urut/runtun, dan sebagainya. Contoh kerangka teks pidato :
Judul: Jenis dan Penyebab Kriminal
I. Pendahuluan
1.     Salam pembuka
2.     Ucapan terima kasih
3.     Sekilas topik pidato
4.      Tujuan pidato

II. Isi pembahasan topik pidato (luas-sempitnya tergantung keperluan)
1.     Pengertian kriminal
2.     Jenis-jenis kriminal
3.     Mengapa kriminalitas terjadi
4.     Bagaimana mengantisipasi atau mencegah munculnya perilaku jahat/kriminal

III. Penutup
1.     Kesimpulan
2.     Harapan
3.     Salam penutup

Dalam menyusun kerangka karangan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.     bentuk organisasi karangan/pola organisasi teks pidato yang akan dibicarakan,
b.     satu cara untuk menyusun suatu rangkaian yang jelas dan struktur yang teratur dari teks pidato yang digarap,
c.     rencana kerja menyusun karangan untuk menghindarkan pembicara dari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu terjadi,
d.     manfaat kerangka pidato:
1.     memandu pembicara dalam mengembangkan teks pidato secara teratur sesuai dengan susunan pikiran dalam kerangka;
2.     mencegah pembicara keluar dari sasaran yang telah ditentukan sesuai dengan topik/judul;
3.     mencegah penulis mengulangi bahasan pada bagian lain;
4.     menyajikan pikiran-pikiran pokok yang dapat diperinci/diperhalus sehingga tidak mungkin ada pengulangan hal yang sama;
5.     menunjukkan kepada pembicara bahan-bahan penulis yang diperlukan untuk mengembangkannya.
 e. Bentuk kerangka
1.     Kerangka kalimat, setiap butir dalam kerangka dinyatakan dalam kalimat   lengkap. Contoh :

Upaya Pembinaan Bahasa Indonesia

1.     Kedisiplinan dalam pemakaian bahasa Indonesia merupakan perwujudan kedisiplinan nasional.
2.     Melalui pembinaan dapat ditumbuhkan kesadaran dan kemampuan berbahasa nasional secara baik dan benar.
3.     Pembinaan dapat dilakukan lewat jalur pendidikan dan penyuluhan.
4.     Materi pembinaan mencakup unsur kebahasaan yang mengacu pada pemakai bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5.     Metode penyuluhan seyogianya cocok dengan prinsip andragogi.

Keberhasilan mendapatkan pekerjaan:
1.         Persyaratan wawancara yang berhasil, yaitu kesan positif, kualitas pribadi, dan keahlian.
2.         Kesan yang positif ditentukan oleh cara berpakaian yang baik dan pantas.
3.         Kualitas pribadi ditentukan oleh tata cara bicara.
4.         Kualitas pribadi ditentukan oleh pengetahuan yang berhubungan dengan jabatan yang akan dilamar.
5.         Keahlian dapat diperlihatkan dengan mempersiapkan informasi dan pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan, dan lain-lain.
6.         Penilaian pewawancara terhadap pelamar.
7.         Yang memenuhi syarat di atas akan berhasil mendapat pekerjaan.
8.         Kerangka topik, setiap butir dalam kerangka dinyatakan dalam topik/frasa, contoh:

 Upaya Pembinaan Bahasa Indonesia
1.     Hubungan dengan gerakan Disiplin Nasional
2.     Tujuan pembinaan
3.     Jalur pembinaan
4.     Materi pembinaan
5.     Metode pembinaan

Kerangka Persyaratan Wawancara
1.     Kesan positif
2.     Kualitas pribadi
3.     Keahlian
4.     Penilaian terhadap pelamar

f. Pola organisasi karangan
1) Pola alamiah: mendeskripsikan tempat/ruang, contoh:
Topik: Laporan Lokasi Banjir di Indonesia
a. Banjir di Jawa Tengah
1. Daerah Semarang
2. Daerah Pekalongan
b. Banjir di Jawa Barat
1. Daerah Ciamis
2. Daerah Garut
2) Pola logis: memakai pendekatan cara berpikir manusia, misalnya urutan klimaks, urutan sebab akibat, urutan pemecahan masalah, dan urutan umum khusus.


2.         Menyusun teks pidato berdasarkan topik yang dipilih
a.       Pengertian topik
Topik pidato adalah pokok pembahasan atau pembicaraan yang hendak disampaikan kepada khalayak melalui pidato. Topik hendaknya merupakan permasalahan yang menarik. Adapun tujuan pidato adalah hal-hal yang hendak dicapai melalui pidato.

b.       Pembatasan topik
Pemilihan topik mengacu pada hal-hal berikut:
a. pentingkah?
b. menarikkah?
c. akrabkah?
d. mungkinkah data diperoleh?
e. cukupkah sarana dan kemampuan menggarapnya?
f. apakah menghasilkan sesuatu yang baru?

Perhatikan contoh di bawah ini.

Topik pidato: Kuantitas dan kualitas kriminal semakin mengkhawatirkan.
Tujuan:
1.     Menginformasikan bahwa sekarang ini kriminalitas semakin meningkat, baik dari segi jumlah maupun mutunya.
2.     Menyadarkan pendengar bahwa kejahatan itu sangat tercela karena sangat merugikan orang lain.
3.     Mengajak untuk tidak terjerumus kepada perilaku kriminal.


Piramida terbalik

1. Remaja
2. Kenakalan remaja
3. Pemakaian narkotika di kalangan remaja
4. Mencegah pemakaian narkotika di kalangan remaja
5. Mencegah pemakaian narkotika di
kalangan remaja
dengan cara
1.Bahasa
2.Bahasa Indonesia
3.Pembinaan lewat jalur formal
4.pengajaran menulis
5.Pengajaran menulis
terpadu di SMA



3. Perumusan tujuan
Manfaat tujuan adalah sebagai berikut:
1.     titik tolak/arah/pedoman bagi penulis dalam mengembangkan karangan,
2.     kunci untuk membuka seluruh karangan,
3.     rancangan menyeluruh yang memungkinkan penulis bergerak dalam batas-batas/ruang lingkup tersebut,
4.     menentukan bahan yang diperlukan,
5.     menentukan cara yang paling tepat dalam menyusun langkah-langkah karangan

Ciri-ciri rumusan tujuan yang baik adalah sebagai berikut.
1)  Terbatas
Benar : Keberhasilan pelamar pekerjaan dalam berwawancara ditentukan oleh kesan yang positif, kualitas pribadi, dan keahlian.
Salah : Banyak cara untuk mencapai keberhasilan dalam berwawancara.
2)  Kesatuan
Benar : Keberhasilan pelamar pekerjaan dalam berwawancara ditentukan oleh kesan yang positif, kualitas pribadi, dan keahlian.
Salah : Banyak cara untuk mencapai keberhasilan dalam berwawancara dan keberhasilan dalam bekerja.
3)  Ketepatan
Benar : Anak yang terlalu pandai sering tidak memerhatikan pelajaran karena apa yang dijelaskan guru sudah dikuasainya.
Salah : Anak yang terlalu pandai sering menimbulkan kesulitan.
4)  Kalimat pernyataan bukan pertanyaan
Contoh :
1.          Pembicara akan mengemukakan beberapa sebab keterlibatan remaja dengan narkotika yang erat kaitannya dengan kurangnya perhatian orang tua dan pendidikan keluarga.
2.          Dalam pidato ini akan dijelaskan penggunaan metode CBSA dalam proses belajar mengajar yang merangsang daya kreatif siswa
3.          Dalam pidato ini akan dibahas perbedaan sistem perekonomian pada pemerintahan Orde Baru dengan sistem perekonomian pada pemerintahan Era Reformasi.
4.          Dalam pidato ini akan diuraikan beberapa proses belajar mengajar yang merangsang daya kreatif siswa.

4.  Pengumpulan bahan

a.    Bahan pidato
 Informasi/data yang dipakai untuk mencapai tujuan pidato.
1) Data :
1.     teori,
2.     contoh-contoh: perincian, perbandingan, hubungan sebab akibat, pengujian dan pembuktian, angka-angka, dan kutipan.
2) Sumber bahan:
1.     perpustakaan,
2.     berpikir kritis,
3.     mencerna (kritik dan informasi),
4.     menyeleksi,
5.     menimbang,
6.     menolak/menerima.
3) Jenis bahan:
1.     gambaran umum
2.     bahan utama
(1) dicatat
(2) diolah
(3) dianalisis
(4) disimpulkan
3.     bahan pelengkap
4) Pengalaman: pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi indrawi
a. pengamatan langsung,                            
b. studi kepustakaan,
c. wawancara,                                                                               
d. angket,
e. kuisioner.                                    
5)  Penalaran
6) Kewenangan: Pendapat yang dikemukakan oleh orang yang berwenang memberikan informasi.

b.     Metode Pengumpulan Bahan
1) brainstorming,
2) penelitian: membaca buku, pengamatan lapangan, dan eksperimen,
3) renungan,
4) rumus kewartawanan: 5W + 1H,
5) kartu informasi.       

D.      Proses penyuntingan naskah pidato
Mengoreksi isi pidato yang ditulis (ketepatan tema dengan isi) adalah sebagai berikut :
Teks pidato yang baik terdiri atas pendahuluan, isi, dan penutup. Isi pidato harus sesuai dengan tema / topik yang telah ditentukan, juga tersusun urut seperti kerangka yang mendahuluinya.
Paragraf satu dengan lainnya memiliki koherensi, saling berkait. Demikian juga kalimat-kalimat dalam paragraf saling melengkapi dan berhubungan.
Kalimat-kalimat dalam paragraf membentuk kesatuan yang utuh, yaitu teks. Secara keseluruhan isi teks tersebut sesuai dengan tema/topik.
Pada prinsipnya topik adalah hal yang mendasari sebuah wacana, teks, atau pidato. Isi teks, wacana, atau pidato adalah penjabaran dari topik/tema.


5.         Refleksi
                             
a)       Refleksi bagi peserta didik
Anda telah mempelajari kompetensi bab menyusun naskah pidato. Kompetensi ini bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari Anda. Mengapa bermanfaat? Mungkin dalam benak Anda terpikir, Anda bukan pejabat yang selalu harus memberikan pidato. Memang Anda bukan pejabat atau kepala sekolah, tetapi tahukah Anda bahwa kesempatan untuk memberikan pidato merupakan saat yang tepat untuk Anda berani tampil di depan umum. Keberanian itu harus dilatih dan dipupuk sejak dini. Kelak jika suatu saat Anda diminta mewakili teman-teman Anda untuk berpidato tidak sulit lagi bagi Anda.

b)       Manfaat yang diperoleh dari menulis naskah pidato
Manfaat menulis naskah pidato :
1.     Melatih berpikir tertib dan teratur karena menulis pidato harus mengikuti tata cara penulisan yang sudah ditentukan prosedur tertentu, metode dan teknik, aturan / kaidah standar, disajikan teratur, runtun dan tertib. 
2.     Bahasa komunikatif ilmiah memiliki syarat h harus jelas/ harus bermakna tunggal tidak boleh ambigu
3.     Penempatan gatra (unsur fungsional dalam kalimat) harus lengkap dan dan tepat
diksi atau pilihan kata harus tepat.
4.     Kita dapat menulis naskah tersebut sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar.
5.     Kita akan dapat mengasai materi yang akan disampaikan dalam pidato tersebut
6.     Dengan menulis kita akan lebih siap dan akan menambah rasa percaya diri.
7.     Dengan menulis setiap apa yang ingin kita sampaikan telah terkonsep dengan baik, sehingga tidak ada materi yang tertinggal.

c)       Peranan Pidato
Peranan pidato dalam menyampaikan ide/informasi secara lisan kepada kelompok massa merupakan aktivitas yang sangat penting, baik pada masa lalu maupun pada masa mendatang. Seseorang yang sudah mahir berbicara di depan umum akan dengan mudah menguasai massa dan menawarkan ide-idenya agar dapat diterima orang lain.
Presiden pertama RI, Soekarno, dengan kemahirannya berpidato mampu menarik minat pendengar dalam jumlah yang luar biasa besarnya. Dengan kepintarannya, beliau sanggup mempersatukan orang Indonesia yang beraneka ragam budaya, suku, dan agama. Lebih dari itu, beliau sanggup menghimpun kekuatan yang mahadasyat untuk mengusir penjajah dari bumi Nusantara.
Kenyataan menunjukkan seorang siswa yang mahir berbicara di depan umum cenderung memiliki relasi yang luas dengan teman-temannya di kelas, sekolah atau masyarakat. Sebaliknya, seorang siswa yang “pendiam” cenderung terbatas pergaulannya



Sinopsis Novel


A. Identitas Buku
Judul buku                  : Salah Asuhan
Pengarang                   : Abdul Muis
Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Utama          
Tahun terbit                 : Cetakan Ketiga Puluh Sembilan, 2009
Jumlah halaman           : 273
Harga buku                 : Rp 48.000,-

Tema: Perkawinan yang memandang perbedaan ras, kultur, bangsa,  agama, suku dan latar
Tokoh :
a.       Hanapi
b.      Corre du Bussee
c.       Orang Tua Hanapi
d.      Istri hanapi
e.       Pihak ketiga
f.       Masyarakat
Latar :
a.       Sekolah
b.      Rumah
c.       Rumah Majikan
d.      Kampung Halaman

Amanat  :
Pendidikan sangat penting terutama pendidikan di masa kecil. Satu hal yang menjadi perhatikan yaitu pendidikan yang kurang pada diri orang tua yang menyebabkan seringkali memberikan
jawaban yang tak masuk akal dan cara mendidik anak yang kurang memadai dalam  sosialisasinya.
Alur : Campuran
Sudut Pandang : Tokoh utama menjadi pelaku utama yang lainnya sebagai
pelaku Sampingan
Gaya Penulisan : Menggunakan Bahasa Indonesia
SINOPSIS
Tokoh utama kisah ini adalah Hanapi, seseorang yang dididik secara barat baik di sekolah maupun di rumah yang mana diharapkan kelak menjadi orang pandai. Sayang pendidikannya memberikan bentuk yang salah dalam diri Hanapi yaitu menjadi kebarat-baratan dan menganggap adat timur itu jelek. Bahkan menjadikan Hanapi sering memandang rendah orang lain. Tokoh kedua Corrie du Bussee yang merupakan anak blasteran Prancis dan Indonesia. Corrie dikisahkan sebagai kawan sepermainan Hanapi yang kelak berubah menjadi orang yang dicintai.
Pada awalnya cinta Hanapi bertepuk sebelah tangan karena pengaruh masyarakat dan peranan orang tua. Dilanjutkan dengan Hanapi yang dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Alhasil kehidupan keluarga Hanapi bagaikan majikan dan pelayan rumah tangga yang menyebabkan banyak mendapat kecaman dari masyarakat.
Akibat sebuah keadaan, Hanapi harus pergi jauh dan disana ia bertemu lagi dengan Corrie. Dimulailah benih-benih cinta yang telah padam itu tumbuh. Akhirnya mereka menikah meskipun memiliki hambatan besar yaitu perbedaan bangsa. Akibatnya banyak penolakan dari masyarakat, perbedaan pendapat, pertengkaran dan fitnah.
Belum selesai kesengsaraan mereka, datang lagi pihak ke-3 yang menyebabkan hilangnya rasa percaya dan berakhir dengan sebuah perceraian. Karena perasaan api cinta tersebut masih ada maka usaha Hanapi untuk menggapai kembali masih menggelora. Tapi sayang ungkapan perasaan bahwa mereka saling mencintai tersebut tercapai ketika Corrie sekarat yang mana satu hari kemudian meninggal.
Hancur perasaan Hanapi menyebabkan ia kembali ke kampung halaman. Tapi apa daya istri terdahulunya tak mau tinggal serumah. Dengan perasan tak berguna, Hanapi meminum sublimat (racun) yang mana menyebabkan ia harus pergi dari dunia ini. Tapi sebelum mengakhiri hayatnya, Hanapi berpesan kepada ibunya agar anaknya dididik dengan sebaik-baiknya dan jangan mengikuti jejak ayahnya yang salah tersebut.

Resensi Buku Fiksi


RESENSI BUKU FIKSI ( NOVEL )

A. Identitas Buku
Judul buku                  : Negeri 5 Menara
Pengarang                   : Ahmad Fuadi
Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Utama          
Tahun terbit                 : Cetakan kesepuluh, Januari 2011
Jumlah halaman           : 423 halaman
Harga buku                 : Rp 50.000,-

Unsur-unsur intrinsik novel
Adapun pemaparan mengenai unsur intrinsik dalam novel Negeri 5 Menara adalah sebagai berikut: 
1. Tema
Adapun tema dari novel Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi adalah pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari latar tempat yaitu di pondok pesantren dimana kegiatan utama yang dilakukan sehari-hari tokoh utama adalah belajar.
2. Plot/Alur
Alur dari Novel Negeri 5 Menara adalah alur maju-mundur. Dimana cerita adalah kilas balik ingatan tokoh utama akan masa silam ketika menimbah ilmu di Pondok Madani hingga membuahkan hasil yang menyenangkan dimasa kini.
Kutipan Novel:
Washington DC, Desember 2003, jam 16.00
Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar. Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbangun jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.( hal.1 )
Aku tegak di atas aula madrasah negeri setingkat SMP. Sambil mengguncang-guncang telapak tanganku, Pak Sikumbang, Kepala Sekolahku memberi selamat karena ujianku termasuk sepuluh yang tertinggi di Kabupaten Agam.(hal. 5)
London, Desember 2003
Gigiku gemeletuk. London yang berangin terasa lebih menggigil dari Washington DC. Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan mengirim benua impian kepelukan kami masing-masing.( hal. 405 )
3. Tokoh dan Penokohan
Adapun tokoh dan penokohan dalam Novel Negeri 5 Menara adalah sebagai berikut :
1.        Alif (tokoh utama) dalam novel ini adalah tokoh yang protagonis. Alif digambarkan sebagai sosok generasi muda yang penuh motivasi, bakat, semangat untuk maju dan tidak kenal menyerah.
2.        Baso dalam novel ini tokoh yang protagonis. Baso adalah teman Alif merupakan anak yang paling rajin dan paling bersegera disuruh ke mesjid.
3.        Raja dalam novel ini tokoh yang protagonis. Teman Alif sesama sahibul menara.
4.        Said dalam novel ini tokoh yang protagonis. Teman Alif sesama sahibul menara.
5.        Dulmajid dalam novel ini tokoh yang protagonis. Teman Alif sesama sahibul menara
6.        Atang dalam novel ini tokoh yang protagonis. Teman Alif sesama sahibul menara.
7.        Ustad Salman dalam novel ini tokoh yang protagonis. Wali kelas Alif. Laki-laki muda bertubuh kurus bersuara lantang.
4. Latar
Adapun latar dari novel ini yaitu di Pondok Madani hal ini didukung oleh tema yang ada yaitu pendidikan. Karakter tokoh utama juga mendukung latar yang ada.
Kutipan Novel:
Pondok Madani diberkti oleh energi yang membuat kami sangat menikmati belajar dan selalu ingin belajar berbagai macam ilmu. Lingkungannya membuat orang yang tidak belajar menjadi orang aneh. Karena itu cukup sulit menjadi pemalas di PM. (hal. 264 ).

5. Sudut Pandang
Dalam novel ini penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini dikarenakan tokoh utama selalu menyebut dirinya dengan kata aku.
Kutipan Novel:
Aku baca suratnya sekali lagi. Senang membaca surat dari kawan lama. Tapi aku juga iri. Rencana masuk SMA-nya juga rencanaku dulu. Aku menghela napas dan menatap kosong kepuncak pohon kelapa. Aku tidak boleh terlambat lagi. Aku kapok jadi jasus. Aku jera menjadi drakula. ( hal. 102-103).
6. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan penulis dalam novel ini sangat inspiratif. Dari tiap kata-katanya kita merasakan kekuatan pandangan hidup yang mendasari bangkitnya semangat untuk mencapai harga diri, prestasi dan martabat diri.
Kutipan Novel:
Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku melihat awan yang seperti benua Amerika, Raja bersikeras awan yang sama berbentuk Eropa, sementara Atang sangat percaya bahwa awan itu berbentuk Afrika. Baso malah melihat semua ini dalam konteks Asia, sedang Said dan Dulmajid awan itu berbentuk peta negara kesatuan Indonesia. Dulu kami tidak takut bermimpi. Meski juga kami tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihat hari ini, setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan mengirim benua impian kepelukan kami masing-masing. Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. ( hal. 405 ).
7. Amanat
Adapun amanat dalam novel ini adalah sebuah perenungan yang diberikan penulis bagi pembaca untuk tidak putus asa dalam hidup dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.
Kutipan Novel:
Jangan pernah remehkan impian walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha  Mendengar.
Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. ( hal.405 ).



Sinopsis
Novel baru terlaris karya Ahmad Fuadi "Negeri 5 Menara" menceritakan kisah lima orang sahabat yang mondok di sebuah pesantren, dan kemudian bertemu lagi ketika mereka sudah beranjak dewasa. Uniknya, setelah bertemu, ternyata apa yang mereka bayangkan ketika menunggu Adzan Maghrib di bawah menara masjid benar-benar terjadi.
Ahmad Fuadi yang berperan sebagai Alif di novel itu berkisah, ia tak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Fuadi tentu saja tidak salah. Sebagai “amak” atau Ibu kala itu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.
“Mempunyai anak yang sholeh dan berbakti adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya mana kala sudah tiada,” ujar Ahmad Fuadi mengenang keinginan Amak di kampung waktu itu.”
Diceritakan, Alif mempunyai keinginan lain. Alif  tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung. Ia mempunyai cita-cita dan keinginan untuk merantau. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan.
Seumur hidupnya Alif tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, main bola di sawah dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba dia harus melintasi punggung Sumatera menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya : belajar di pondok.
Kedua orangtuanya bergeming agar Fuadi tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Namun berkat saran dari ”Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo, akhirnya Fuadi kecil bisa merantau ke Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Dan, disinilah cerita kemudian bergulir. Ringkasnya Fuadi kemudian berkenalan dengan Raja, Atang,Dulmajid, Baso dan Said.
Di hari pertama Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak ke ufuk. Awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan benua impian masing-masing. Ke mana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah; jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Kelima bocah yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik. Menjelang Adzan Maghrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Fuadi mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.
Melalui lika liku kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ke lima santri itu digambarkan bertemu di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Dan, mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur.
Belajar di pesantren bagi Fuadi ternyata memberikan warna tersendiri bagi dirinya. Ia yang tadinya beranggapan bahwa pesantren adalah konservatif, kuno, ”kampungan” ternyata adalah salah besar. Di pesantren ternyata benar-benar menjujung disiplin yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan komitmen. Di pesantren mental para santri itu ”dibakar” oleh para ustadz agar tidak gampang menyerah. Setiap hari, sebelum masuk kelas, selalu didengungkan kata-kata mantera ”Manjadda Wajadda” jika bersungguh-sungguh akan berhasil.
”Siapa mengira jika Fuadi yang anak kampung kini sudah berhasil meraih impiannya untuk bersekolah dan bekerja di Amerika Serikat? Untuk itu, jangan berhenti untuk bermimpi,” ujar Ahmad Fuadi memberikan nasihat.

Sinopsis Novel


RESENSI BUKU FIKSI ( NOVEL, SASTRA KLASIK )

A. Identitas Buku
Judul buku                  : Salah Asuhan
Pengarang                   : Abdul Muis
Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Utama          
Tahun terbit                 : Cetakan Ketiga Puluh Sembilan, 2009
Jumlah halaman           : 273 halaman
Harga buku                 : Rp 48.000,-

Pola Membaca Cepat
Pola yang digunakan untuk membaca novel salah asuhan ialah dengan menggunakan pola blok, yakni pada pola blok ini berhenti sejenak pada akhir blok-blok tertentu. Dengan membaca kalimat awal dan kalimat akhir sebuah paragraf baik, disini saya dapat menerka isi paragraf tersebut isinya apa.
Unsur-unsur Intrinsik novel
Adapun pemaparan mengenai unsur intrinsik dalam novel salah asuhan adalah sebagai berikut: 
1. Tema
Adapun tema dalam novel salah asuhan ialah kentalnya adat istiadat/ budaya. Perkawinan yang memandang perbedaan ras, kultur, bangsa,  agama, suku dan latar.
Hal ini dapat dilihat dari cara tokoh utama yaitu Hanapi memperbudak istinya yang berbeda suku dengannya. Perbedaaan itu semua membuat Hanapi begitu sangat membenci istrinya yang ia persunting karena ada perintah dari orang tuanya, yang sebenarnya dia begitu sangat berkeberatan untuk menikahi istrinya itu.
Dengan mengetengahkan tokoh Hanapi dalam novel ini, pengarang mengkritik sikap tingkah laku kaum borjuis yang kebarat-baratan dan lupa daratan. Dalam noveltersebut, soal adat masih disinggung-singgung bahkan banyak kritiknya yang sangat tajam.
2. Plot/ Alur : campuran
3. Tokoh/ penokohan
a.    Hanapi (tokoh utama) dalam novel ini adalah tokoh antagonis. Hanapi digambarkan sebagai sosok yang sangar, sering membantah pada orang tua, dan juga sering kali mengejek/ tidak mengakui istrinya.
b.    Corre du Bussee dalam novel ini ialah sebagai  kawan sepermainan Hanapi yang kelak berubah menjadi orang yang dicintai.
c.    Orang Tua Hanapi
d.   Istri hanapi dalam novel ini ialah sebagai istri yang dipilkannya oleh ibu Hanapi untuk Hanapi. Tokoh yang protagonis.
e.    Pihak ketiga
f.     Masyarakat dalam novel ini sebagai orang yang mengecam rumah tangga Hanapi dan istrinya. Dikarenakan Hanapi memperlakukan istri dan ibunya itu sebagai pembantu/ pelayan rumah tangga.
4. Latar
Adapun latar dari novel ini yaitu di Sekolah, rumah, rumah majikan, kampung halaman.
5. Sudut Pandang
Dalam novel ini penulis menggunakan sudut pandang tokoh utama menjadi pelaku utama yang lainnya sebagai pelaku sampingan.
6. Gaya Penulisan
Gaya bahasa yang digunakan penulis dalam roman ini sangat kental akan kritikan-kritikan akan budaya barat yang sok kebarat-baratan. Ini menyadarkan kita bahwa budaya sendiri lebih baik untuk kita pakai karena masih punya tatakrama dan kesopanan yang patut dipakai. Menggunakan bahasa Indonesia, yang pada umumnya adalah bahasa yang mudah dimengerti (bersifat komunikatif), yakni ragam bahasa yang dipakai dalam kehidupan kesehatian. Bahasa yang berkaitan dengan situasi lingkungan, sosial budaya, dan pendidikan.
7. Amanat 
Pendidikan sangat penting terutama pendidikan di masa kecil. Satu hal yang menjadi perhatikan yaitu pendidikan yang kurang pada diri orang tua yang menyebabkan seringkali memberikan jawaban yang tak masuk akal dan cara mendidik anak yang kurang memadai dalam  sosialisasinya.
SINOPSIS
Tokoh utama kisah ini adalah Hanapi, seseorang yang dididik secara barat baik di sekolah maupun di rumah yang mana diharapkan kelak menjadi orang pandai. Sayang pendidikannya memberikan bentuk yang salah dalam diri Hanapi yaitu menjadi kebarat-baratan dan menganggap adat timur itu jelek. Bahkan menjadikan Hanapi sering memandang rendah orang lain. Tokoh kedua Corrie du Bussee yang merupakan anak blasteran Prancis dan Indonesia. Corrie dikisahkan sebagai kawan sepermainan Hanapi yang kelak berubah menjadi orang yang dicintai.
Pada awalnya cinta Hanapi bertepuk sebelah tangan karena pengaruh masyarakat dan peranan orang tua. Dilanjutkan dengan Hanapi yang dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Alhasil kehidupan keluarga Hanapi bagaikan majikan dan pelayan rumah tangga yang menyebabkan banyak mendapat kecaman dari masyarakat.
Akibat sebuah keadaan, Hanapi harus pergi jauh dan disana ia bertemu lagi dengan Corrie. Dimulailah benih-benih cinta yang telah padam itu tumbuh. Akhirnya mereka menikah meskipun memiliki hambatan besar yaitu perbedaan bangsa. Akibatnya banyak penolakan dari masyarakat, perbedaan pendapat, pertengkaran dan fitnah.
Belum selesai kesengsaraan mereka, datang lagi pihak ke-3 yang menyebabkan hilangnya rasa percaya dan berakhir dengan sebuah perceraian. Karena perasaan api cinta tersebut masih ada maka usaha Hanapi untuk menggapai kembali masih menggelora. Tapi sayang ungkapan perasaan bahwa mereka saling mencintai tersebut tercapai ketika Corrie sekarat yang mana satu hari kemudian meninggal.
Hancur perasaan Hanapi menyebabkan ia kembali ke kampung halaman. Tapi apa daya istri terdahulunya tak mau tinggal serumah. Dengan perasan tak berguna, Hanapi meminum sublimat (racun) yang mana menyebabkan ia harus pergi dari dunia ini. Tapi sebelum mengakhiri hayatnya, Hanapi berpesan kepada ibunya agar anaknya dididik dengan sebaik-baiknya dan jangan mengikuti jejak ayahnya yang salah tersebut.